Jumat, 16 Maret 2012

MELANKOLIA USIA


Dia perempuan bermata hujan.
Matanya menyimpan bulirbulir getir
yang mengasihani nama perempuan.

Lalu dipungutinya nasi berserak itu sebutirsebutir.
Terngiang suara ibunya mengisahkan
dongeng kanakkanak tentang tangisan sebutir nasi
yang ditakdirkan tak ditelan.

“Tak boleh serapah menjumpai kedurhakaaan
atau kau akan kelaparan.”

Dan sisa airmatanya membuat jejak
Serupa air beras yang menempel di tutup panci.

Lantas diletakkannnya butirbutir nasi itu di bawah daun
Dihadapannya belukar terhampar, liar
Mengisyarat tentang iritabilita hati yang mengatup.
Berharap semua perih ditanamnya pada tanah
Agar kelak anakanaknya tahu bagaimana cara
menumbuhkan dan merawat risau diamdiam.

Seorang lelaki menuduhnya
menguapkan aroma rempahrempah
dan asap tungku dari tubuhnya.

Maret, 2012

2 komentar: