:
Pagi ini kudapati puisi mengalir bersama busa sabun
Selalu putih
Sementara aroma deterjen mengembalikan ingatanku yang tersesat
dan amat sulit diajak pulang
Sepertinya sikat cuci melukainya
Biru lebam
Juli, ini violet levender
Pulanglah.
Ramadhan, 1433 H
Juli, 2012
Sabtu, 28 Juli 2012
Senin, 16 Juli 2012
TENTANG DANDELION DAN CELADON BIRU
:
Segala perihal diciptakan memiliki kebalikan
Yang tidak segalanya bisa ditemui bersamaan
dalam sekali hidup sekali mati.
Tidak kah kau sempat mendengar percakapan ukiran guci dan naskah kuno
di kunjungan kita yang terakhir?
Di museum, dimana masa lalu dan masa kini dipertemukan dalam kotak kaca
dengan akur.
Bahwa berharga tidak dikenali dari harga yang ditempeli angka
Melainkan dari makna yang dilekati waktu.
Sekiranya Tuhan mengizinkan,
Aku ingin sekali menjadi penjaga museum
Yang menjaga patung dan cawan celadon biru sesegi
Sambil memelihara bunga dandelion di luar jendela.
Sementara anakanak angin mengabarkan cerita lampau dinasti
dan beberapa rahasia sisa reruntuhan candi
kepada cucunya dengan mata sembab
Sementara aku sesenggukan menulismu di sana.
Juli, 2012
Segala perihal diciptakan memiliki kebalikan
Yang tidak segalanya bisa ditemui bersamaan
dalam sekali hidup sekali mati.
Tidak kah kau sempat mendengar percakapan ukiran guci dan naskah kuno
di kunjungan kita yang terakhir?
Di museum, dimana masa lalu dan masa kini dipertemukan dalam kotak kaca
dengan akur.
Bahwa berharga tidak dikenali dari harga yang ditempeli angka
Melainkan dari makna yang dilekati waktu.
Sekiranya Tuhan mengizinkan,
Aku ingin sekali menjadi penjaga museum
Yang menjaga patung dan cawan celadon biru sesegi
Sambil memelihara bunga dandelion di luar jendela.
Sementara anakanak angin mengabarkan cerita lampau dinasti
dan beberapa rahasia sisa reruntuhan candi
kepada cucunya dengan mata sembab
Sementara aku sesenggukan menulismu di sana.
Juli, 2012
Kamis, 12 Juli 2012
C
:
"Beberapa orang di dunia ini mengalami kesulitan menggati mimpinya dengan mimpi yang lain."
Yang tak bisa ditukar dan sukar diganti
Hanya bisa dibagi oleh mereka yang pernah dan masih yakini
Bahwa yang disebutnya mimpi
Adalah bukan ketika mata terpejam dan tak sadar
Melainkan yang paling pertama disadari ketika membuka mata.
Itulah kenapa kupikir tak baik manusia kerap kali mengganti warna matanya
Sebab mereka mungkin akan sulit melihat dan mengenali
Saat alas tidur diganti, saat selimut diganti, saat ruang tidur diganti.
Kita tak akan kemanamana. Sebab mimpi telah tersimpan rapi di sebuah tempat.
Juli, 2012
"Beberapa orang di dunia ini mengalami kesulitan menggati mimpinya dengan mimpi yang lain."
Yang tak bisa ditukar dan sukar diganti
Hanya bisa dibagi oleh mereka yang pernah dan masih yakini
Bahwa yang disebutnya mimpi
Adalah bukan ketika mata terpejam dan tak sadar
Melainkan yang paling pertama disadari ketika membuka mata.
Itulah kenapa kupikir tak baik manusia kerap kali mengganti warna matanya
Sebab mereka mungkin akan sulit melihat dan mengenali
Saat alas tidur diganti, saat selimut diganti, saat ruang tidur diganti.
Kita tak akan kemanamana. Sebab mimpi telah tersimpan rapi di sebuah tempat.
Juli, 2012
Kamis, 28 Juni 2012
CERITA BERPAYUNG
:
Bersamaan saat punggungmu berbalik
Punggung langit berbalik dua warna
Merah jambu lalu mirip daun jambu kering.
Isyaratkan pergantian hadapan
yang mungkin sejalan dengan pergantian garadasi warna
Seperti warna kau juga.
Dan semakin tak bisa kutafsirkan irisan bulan
yang cekung seperduabelas, barangkali.
Tapi juga tetap bundar, sedang tergantung.
Pijakanmu, abuabu atau benarbenar gelap kah?
Tak ada yang jelas kulihat di sana
Kecuali punggung ilalang yang kau rapatkan
dengan punggung payungmu.
Mungkinkah serupa kita?
Tak lagi kah tubuhmu butuh kau payungi?
Jika iya, bisakah aku jadi gagang payungmu saja?
Agar tetap bisa kau genggam
Saat punggung payungmu menghadap punggung langit
Atau jika punggung payungmu membisiki punggung ilalang.
*Sedang belajar menerjemahkan cerita bergambar
Juni, 2012
Bersamaan saat punggungmu berbalik
Punggung langit berbalik dua warna
Merah jambu lalu mirip daun jambu kering.
Isyaratkan pergantian hadapan
yang mungkin sejalan dengan pergantian garadasi warna
Seperti warna kau juga.
Dan semakin tak bisa kutafsirkan irisan bulan
yang cekung seperduabelas, barangkali.
Tapi juga tetap bundar, sedang tergantung.
Pijakanmu, abuabu atau benarbenar gelap kah?
Tak ada yang jelas kulihat di sana
Kecuali punggung ilalang yang kau rapatkan
dengan punggung payungmu.
Mungkinkah serupa kita?
Tak lagi kah tubuhmu butuh kau payungi?
Jika iya, bisakah aku jadi gagang payungmu saja?
Agar tetap bisa kau genggam
Saat punggung payungmu menghadap punggung langit
Atau jika punggung payungmu membisiki punggung ilalang.
*Sedang belajar menerjemahkan cerita bergambar
Juni, 2012
Senin, 25 Juni 2012
SABAN SORE LIMABELAS TAHUN LALU
:
(1)
Seperti kala sebelumnya yang tanpa dialog
Tanah masih basah selepas hujan sore hari
Syahdan seorang anak kampung tanpa alas kaki yang mengintai lelaki asing dari celah daun.
Mata mereka telah lebih dulu saling menagkap
Saat nyaris semua andai melengkapi duga di khayal kanakkanaknya.
Tapi semua isi lamunan berlarian lebih cepat mengikuti telapak kakinya di tanah, bergetah.
Berlari menjadikan helanya bersenyawa dengan desau angin, bergantian.
Lalu, sore itu didapatinya telah rontok di bawah pancuran bambu
Bersama lekat getah tanah di kakinya dan kukunya.
Sementara lelaki asing itu mengantongi pergi sebuah pertemuan tanpa pengakuan.
(2)
Saat ini,
Seperti kala sebelumnya yang tanpa dialog
Diluar, gelap awan semakin tebal dan rendah di atas kepalaku
Kau berdiri dalam jarak yang tak lebih limabelas langkah
Ruangan ini berbeda dan asing, beralantai licin dari porselin.
Tapi kaki kita di lantai lebih lekat lebih rapat dari telapak kaki di tanah liat.
Pajangan dedaunan imitasi di sudut ruangan belakangmu mengingatkanku pada cerita sore itu.
Adakah kau pelihara pertemuan sealami hutan kala itu?
Kembali, mataku tertangkap matamu.
Seperti kala sebelumnya yang tanpa dialog.
Juni, 2012
(1)
Seperti kala sebelumnya yang tanpa dialog
Tanah masih basah selepas hujan sore hari
Syahdan seorang anak kampung tanpa alas kaki yang mengintai lelaki asing dari celah daun.
Mata mereka telah lebih dulu saling menagkap
Saat nyaris semua andai melengkapi duga di khayal kanakkanaknya.
Tapi semua isi lamunan berlarian lebih cepat mengikuti telapak kakinya di tanah, bergetah.
Berlari menjadikan helanya bersenyawa dengan desau angin, bergantian.
Lalu, sore itu didapatinya telah rontok di bawah pancuran bambu
Bersama lekat getah tanah di kakinya dan kukunya.
Sementara lelaki asing itu mengantongi pergi sebuah pertemuan tanpa pengakuan.
(2)
Saat ini,
Seperti kala sebelumnya yang tanpa dialog
Diluar, gelap awan semakin tebal dan rendah di atas kepalaku
Kau berdiri dalam jarak yang tak lebih limabelas langkah
Ruangan ini berbeda dan asing, beralantai licin dari porselin.
Tapi kaki kita di lantai lebih lekat lebih rapat dari telapak kaki di tanah liat.
Pajangan dedaunan imitasi di sudut ruangan belakangmu mengingatkanku pada cerita sore itu.
Adakah kau pelihara pertemuan sealami hutan kala itu?
Kembali, mataku tertangkap matamu.
Seperti kala sebelumnya yang tanpa dialog.
Juni, 2012
Senin, 18 Juni 2012
MALAM 10.05
:
"Musim angin kembali dengan potongan yang diterbangkannya dan kenangan yang didatangankannya"
Kau pernah bilang, hendak merenovasi kamar ini usai musim gugur daun
Dindingnya yang lumutan, jelas mengering
Tapi tetumbuhan jenis ini tak kenal cara gugurkan daun.
Tidak, tidak, bukan begitu sepertinya.
Aku yang tak kenal mana daun, mana ranting, mana batang, dan mana akar lumut.
Barangkali seperti aku yang tak benarbenar kenal kau.
Hanya saja entah kenapa, kubayangkan dinding itu adalah hatimu.
Tentang sisisisiya dan sisasisanya yang terlalu lama basah.
Dan aku hanya sekedar cat dinding yang terkelupas,
yang pernah ada mengingatkanmu musimmusim yang sempat kita tandai.
Tiktiktik
Juni, 2012
"Musim angin kembali dengan potongan yang diterbangkannya dan kenangan yang didatangankannya"
Kau pernah bilang, hendak merenovasi kamar ini usai musim gugur daun
Dindingnya yang lumutan, jelas mengering
Tapi tetumbuhan jenis ini tak kenal cara gugurkan daun.
Tidak, tidak, bukan begitu sepertinya.
Aku yang tak kenal mana daun, mana ranting, mana batang, dan mana akar lumut.
Barangkali seperti aku yang tak benarbenar kenal kau.
Hanya saja entah kenapa, kubayangkan dinding itu adalah hatimu.
Tentang sisisisiya dan sisasisanya yang terlalu lama basah.
Dan aku hanya sekedar cat dinding yang terkelupas,
yang pernah ada mengingatkanmu musimmusim yang sempat kita tandai.
Tiktiktik
Juni, 2012
Sabtu, 09 Juni 2012
DEAR MEI IN JUNE
:
Adalah janji yang kau tulis untuk dirimu sendiri
dengan nama terangmu
Sebenarnya janji yang paling mudah
kau ingkari secara rahasia.
Sekaligus sebenarnya janji
yang paling ingin untuk bisa kau tepati
lalu kau rayakan secara rahasia pula.
Maka, sebelum kau ganti atas nama apa siapa
janji itu kau buat,
Kumohon padamu, jangan pernah ampuni aku!
Jangan sekarang!
Juni, 2012
Adalah janji yang kau tulis untuk dirimu sendiri
dengan nama terangmu
Sebenarnya janji yang paling mudah
kau ingkari secara rahasia.
Sekaligus sebenarnya janji
yang paling ingin untuk bisa kau tepati
lalu kau rayakan secara rahasia pula.
Maka, sebelum kau ganti atas nama apa siapa
janji itu kau buat,
Kumohon padamu, jangan pernah ampuni aku!
Jangan sekarang!
Juni, 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
